Spread the love

Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia

Setiap jabatan pada akhirnya mempunyai batas waktu. Presiden, menteri, kepala daerah, anggota legislatif, maupun berbagai jabatan publik lainnya tidak akan dipegang selamanya. Tetapi menurut saya, berakhirnya jabatan tidak seharusnya berarti berakhir pula pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Hal inilah yang menarik untuk kita lihat dalam perjalanan Joko Widodo setelah menyelesaikan dua periode kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Joko Widodo menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024 setelah memimpin Indonesia selama dua periode. Pergantian kepemimpinan merupakan bagian dari demokrasi. Ada saatnya seseorang memperoleh amanah, ada saatnya bekerja dan mengambil keputusan, dan ada pula saatnya menyerahkan tanggung jawab kepada pemimpin berikutnya. Namun pengalaman memimpin negara selama sepuluh tahun tentu merupakan pengalaman yang sangat besar. Pengalaman seperti itu menurut saya tidak harus berhenti menjadi catatan sejarah.

Jabatan Adalah Sementara

Dalam kehidupan politik, kita harus menyadari bahwa jabatan bukanlah milik pribadi. Hari ini seseorang mungkin mempunyai kekuasaan besar, didampingi banyak pejabat, mendapatkan pengawalan, dan setiap perkataannya menjadi perhatian masyarakat. Tetapi ketika masa jabatan selesai, seluruh fasilitas dan kewenangan itu pada akhirnya harus diserahkan. Karena itu, seorang pemimpin seharusnya tidak mengukur harga dirinya dari jabatan yang dimilikinya. Yang jauh lebih penting adalah apa yang telah dilakukan ketika memperoleh kesempatan memimpin dan apa yang masih dapat diberikan setelah tidak lagi memiliki kekuasaan. Menurut saya, pemahaman seperti ini penting bukan hanya bagi seorang mantan presiden, tetapi bagi siapa saja yang pernah atau sedang menerima suatu tanggung jawab.

Pengalaman Kepemimpinan Jangan Terbuang

Menjadi Presiden Republik Indonesia selama dua periode tentu memberikan Joko Widodo pengalaman menghadapi berbagai persoalan bangsa. Mulai dari pembangunan infrastruktur, ekonomi, UMKM, pelayanan publik, pembangunan daerah, investasi, hubungan internasional, penanganan pandemi, hingga berbagai persoalan sosial dan politik. Tentu tidak semua kebijakan pemerintahan dapat memuaskan seluruh masyarakat. Dalam demokrasi, setiap pemerintahan harus terbuka terhadap kritik. Ada kebijakan yang dinilai berhasil, ada yang masih perlu disempurnakan, dan ada pula yang harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintahan berikutnya. Namun pengalaman tersebut tetap merupakan kekayaan yang dapat dibagikan kepada generasi berikutnya. Seorang mantan pemimpin dapat memberikan pandangan, pengalaman, nasihat, maupun pemikiran tanpa harus kembali memegang kekuasaan pemerintahan.

Tetap Turun dan Mendengarkan Masyarakat

Menurut saya, salah satu bentuk pengabdian yang paling sederhana tetapi penting adalah tetap mau bertemu dan mendengarkan masyarakat. Ketika seseorang sudah pernah berada di posisi tertinggi negara, kemudian masih bersedia datang ke daerah, bertemu masyarakat, berdialog dengan pelaku usaha, anak muda, tokoh masyarakat, maupun berbagai kelompok lainnya, maka pengalaman yang dimilikinya dapat tetap memberikan manfaat. Pemimpin jangan hanya dekat dengan masyarakat ketika membutuhkan suara dalam pemilu. Kedekatan dengan masyarakat seharusnya menjadi kebiasaan sepanjang kehidupan. Dari masyarakatlah seorang pemimpin dapat mengetahui apakah pembangunan benar-benar dirasakan, apakah usaha kecil berkembang, apakah lapangan pekerjaan tersedia, dan apakah pelayanan pemerintah telah berjalan sebagaimana mestinya.

Mantan Pemimpin Bisa Menjadi Jembatan Antargenerasi

Indonesia membutuhkan regenerasi kepemimpinan. Anak-anak muda harus diberikan kesempatan untuk belajar, berorganisasi, masuk ke dunia usaha, pemerintahan, politik, maupun berbagai bidang pelayanan masyarakat. Namun generasi baru juga membutuhkan pengalaman dari generasi sebelumnya. Di sinilah menurut saya mantan pemimpin mempunyai peran penting. Pengalaman tidak harus digunakan untuk mengendalikan generasi berikutnya, tetapi dapat digunakan untuk membimbing, mengingatkan, dan memberikan pelajaran mengenai keberhasilan maupun kesalahan yang pernah terjadi. Generasi lama memberikan pengalaman. Generasi baru membawa energi, teknologi, kreativitas, dan cara berpikir baru. Kalau keduanya dapat berjalan bersama, bangsa ini akan semakin kuat.

Pemerintahan Berganti, Pembangunan Harus Berlanjut

Pergantian presiden tidak boleh membuat Indonesia selalu memulai semuanya dari nol. Program yang baik harus dilanjutkan. Program yang kurang baik harus diperbaiki. Program yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat harus dievaluasi. Inilah pentingnya kesinambungan pembangunan. Joko Widodo mempunyai periode dan warisan pemerintahannya sendiri. Presiden Prabowo Subianto juga mempunyai visi, prioritas, dan tanggung jawabnya sendiri untuk membawa Indonesia ke depan. Kita harus menghormati pemerintahan yang sedang berjalan sekaligus tetap mampu mempelajari pengalaman pemerintahan sebelumnya. Karena tujuan akhirnya bukan mempertahankan nama seorang pemimpin. Tujuan akhirnya adalah memastikan Indonesia terus bergerak maju dan kehidupan masyarakat semakin baik.

Pengabdian Tidak Membutuhkan Jabatan

Pada akhirnya, ada pelajaran sederhana yang menurut saya dapat kita ambil. Seseorang tidak harus menjadi presiden untuk mengabdi. Tidak harus menjadi menteri untuk membantu masyarakat. Tidak harus menjadi anggota DPR untuk memberikan gagasan. Tidak harus mempunyai kekuasaan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Jabatan memang dapat memberikan kewenangan yang lebih besar. Tetapi pengabdian lahir dari kemauan untuk terus memberikan manfaat. Karena itu, perjalanan Joko Widodo setelah menjadi Presiden sebaiknya juga kita lihat dari sudut pandang tersebut. Setelah sepuluh tahun memimpin Indonesia, masyarakat tentu akan terus menilai warisan pemerintahannya secara terbuka. Kritik merupakan bagian dari demokrasi, sebagaimana penghargaan terhadap hal-hal yang dianggap berhasil juga merupakan sesuatu yang wajar. Namun satu hal yang menurut saya penting adalah: selama seseorang masih mempunyai pengalaman, tenaga, pemikiran, dan kesempatan untuk membantu masyarakat, maka ruang untuk mengabdi sebenarnya tidak pernah tertutup.

Jabatan boleh selesai, kekuasaan boleh berpindah, dan masa pemerintahan boleh berakhir. Tetapi semangat untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, bangsa, dan negara seharusnya tidak pernah berhenti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *