Rupiah Tertekan Dolar AS, Binton Nadapdap Ajak Masyarakat Tetap Optimistis

Spread the love

Depok – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut memunculkan berbagai respons, mulai dari kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang hingga dampaknya terhadap perekonomian nasional. Namun di tengah situasi tersebut, Anggota DPRD Kota Depok sekaligus Ketua DPD PSI Kota Depok, Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H. Mantan pegawai Bank BUMN selama 30 tahun, sudah mengalami banyak krisis ekonomi, saya mengajak masyarakat untuk tetap optimistis dan tidak terjebak dalam kepanikan. Menurut Binton, fluktuasi nilai tukar merupakan bagian dari dinamika ekonomi global yang juga dialami oleh banyak negara. Oleh karena itu, masyarakat perlu melihat persoalan ini secara lebih luas dan tidak hanya berfokus pada pergerakan kurs semata. “Tekanan terhadap rupiah saat ini harus kita sikapi dengan kepala dingin dan penuh optimisme. Kondisi ekonomi global memang sedang menghadapi berbagai tantangan, sehingga banyak mata uang negara berkembang mengalami tekanan yang sama. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga kepercayaan terhadap kekuatan ekonomi nasional,” ujar Binton saat dimintai tanggapannya.

Binton menjelaskan bahwa berbagai faktor eksternal turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, ketegangan geopolitik dunia, hingga ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada pergerakan arus modal internasional. Meski demikian, ia menilai Indonesia masih memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan tersebut. Pertumbuhan konsumsi domestik, pembangunan infrastruktur, investasi yang terus berjalan, serta kontribusi UMKM menjadi modal penting bagi perekonomian nasional. “Kita harus melihat gambaran besarnya. Indonesia memiliki pasar yang besar, sumber daya yang melimpah, serta masyarakat yang produktif. Ini merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara,” katanya.

Menurut Binton, situasi pelemahan rupiah justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat sektor ekonomi nasional. Salah satunya dengan meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dan mendorong pertumbuhan industri lokal agar lebih kompetitif. Ia menilai ketergantungan terhadap produk impor perlu terus dikurangi melalui penguatan sektor manufaktur, pertanian, ekonomi kreatif, dan UMKM. “Setiap tantangan pasti memiliki peluang. Ketika rupiah mengalami tekanan, kita harus semakin fokus memperkuat produksi dalam negeri, meningkatkan ekspor, dan menciptakan nilai tambah bagi produk-produk Indonesia,” jelasnya. Binton juga mengajak masyarakat untuk semakin mencintai dan menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, semakin tinggi tingkat konsumsi terhadap produk dalam negeri, maka semakin besar pula dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Dalam kesempatan tersebut, Binton turut mengapresiasi berbagai langkah yang dilakukan pemerintah bersama Bank Indonesia dan lembaga terkait dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia menilai pemerintah terus bekerja keras menghadapi tantangan global melalui berbagai kebijakan ekonomi yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, serta meningkatkan kepercayaan investor. “Saya melihat pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional. Tantangan yang dihadapi memang tidak mudah, tetapi langkah-langkah yang dilakukan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melindungi kepentingan masyarakat dan menjaga pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Sebagai penggiat UMKM dan Ketua DPD PSI Kota Depok, Binton menegaskan bahwa sektor usaha mikro, kecil, dan menengah harus menjadi prioritas dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Menurutnya, UMKM terbukti menjadi salah satu sektor yang paling tangguh dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. “Pemerintah perlu terus memberikan dukungan kepada UMKM melalui akses pembiayaan, pelatihan, digitalisasi, dan perluasan pasar. Ketika UMKM tumbuh, ekonomi daerah dan nasional akan semakin kuat,” katanya. Ia juga berharap pemerintah daerah dapat terus menghadirkan program-program yang membantu pelaku usaha lokal agar mampu bersaing dan berkembang di tengah tantangan ekonomi global.

Lebih lanjut, Binton mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang dapat memicu kepanikan. Menurutnya, optimisme dan semangat produktif merupakan modal penting dalam menjaga ketahanan ekonomi bangsa. “Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Kita pernah menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan berhasil melewatinya. Yang terpenting sekarang adalah tetap bekerja, tetap produktif, dan terus mendukung perekonomian nasional sesuai kemampuan masing-masing,” tegasnya. Binton meyakini bahwa dengan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Indonesia akan mampu menjaga stabilitas ekonomi dan menghadapi berbagai tantangan global dengan baik. “Bangsa Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi berbagai ujian. Saya optimistis, dengan persatuan, kerja keras, dan semangat gotong royong, kita akan mampu melewati situasi ini dan bahkan menjadi lebih kuat ke depannya,” pungkasnya.

Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan, optimisme dan kepercayaan terhadap kemampuan bangsa menjadi pesan utama yang disampaikan Binton Nadapdap. Baginya, pelemahan rupiah bukan alasan untuk pesimis, melainkan momentum untuk memperkuat ekonomi nasional dan membangun kemandirian bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *