Spread the love

Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Komisi A dan Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia

Kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto membawa arah pembangunan yang menekankan kemandirian bangsa, penguatan ekonomi rakyat, ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengelolaan kekayaan negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. Menurut saya, kontribusi seorang presiden tidak hanya dinilai dari banyaknya program yang diluncurkan. Kontribusi juga harus dilihat dari keberanian menentukan arah, mengambil keputusan strategis, serta memastikan negara hadir dalam kehidupan masyarakat. Salah satu perhatian utama Presiden Prabowo adalah ketahanan pangan. Pemerintah menempatkan swasembada pangan sebagai prioritas nasional karena ketersediaan pangan merupakan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi dan kedaulatan negara. Pada Mei 2026, pemerintah melaporkan bahwa cadangan beras nasional telah mencapai lebih dari 5,3 juta ton. Langkah tersebut penting karena Indonesia tidak boleh terus bergantung pada pasokan pangan dari negara lain. Petani harus mendapatkan perlindungan, akses pupuk, bibit unggul, alat pertanian, pasar yang jelas, serta harga hasil panen yang menguntungkan. Kontribusi lainnya terlihat melalui Program Makan Bergizi Gratis. Program ini bukan hanya mengenai pembagian makanan, tetapi juga berkaitan dengan masa depan anak-anak Indonesia. Asupan gizi yang baik dapat membantu anak tumbuh sehat, lebih siap belajar, dan memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang.

Badan Gizi Nasional mencatat bahwa hingga awal Januari 2026, Program Makan Bergizi Gratis telah melayani sekitar 55,1 juta penerima manfaat melalui 19.188 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di 38 provinsi. Program tersebut juga dapat menggerakkan perekonomian daerah apabila bahan pangan diperoleh dari petani, peternak, nelayan, koperasi, dan pelaku UMKM setempat. Dengan demikian, anggaran negara tidak hanya menghasilkan makanan bergizi, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi di tengah masyarakat. Dalam bidang kesehatan dan pendidikan, pemerintahan Presiden Prabowo mendorong program pemeriksaan kesehatan gratis, pemerataan pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penguatan karakter peserta didik. Pemerintah menempatkan pembangunan manusia sebagai bagian penting dari strategi mencapai kemandirian bangsa. Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya dengan membangun gedung dan jalan. Kemajuan juga membutuhkan anak-anak yang sehat, guru yang berkualitas, sekolah yang layak, tenaga kesehatan yang mencukupi, dan masyarakat yang memperoleh pelayanan dasar secara adil. Presiden Prabowo juga memberikan perhatian kepada penguatan ekonomi rakyat melalui Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih. Koperasi tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai pasok, meningkatkan daya saing ekonomi lokal, dan menciptakan sistem ekonomi yang lebih efisien hingga lapisan masyarakat terbawah. Pada Februari 2026, pemerintah menyampaikan bahwa pembangunan ekosistem 30.000 koperasi beserta infrastruktur ekonominya telah memasuki tahap kesiapan yang signifikan.

Menurut saya, koperasi dapat menjadi kekuatan besar apabila dikelola secara profesional, transparan, dan bebas dari kepentingan kelompok. Koperasi harus benar-benar menjadi milik anggota dan memberikan manfaat kepada masyarakat, bukan sekadar menjadi program administratif. Dalam bidang energi, Presiden Prabowo mendorong kemandirian melalui peningkatan produksi energi dalam negeri dan pengembangan bahan bakar nabati. Pada Juli 2026, pemerintah meresmikan implementasi biodiesel B50 serta lima bendungan dengan nilai investasi sekitar Rp9,79 triliun. Bendungan tersebut mempunyai peran penting untuk mendukung pengairan, penyediaan air, pengendalian banjir, dan ketahanan pangan. Pemerintah juga memperkuat penegakan hukum dan penyelamatan kekayaan negara. Pada Mei 2026, pemerintah melaporkan penerimaan negara sekitar Rp10,27 triliun dari denda administratif, penerimaan pajak, dan penertiban kawasan hutan. Satgas Penertiban Kawasan Hutan juga melaporkan penguasaan kembali kawasan perkebunan sawit seluas lebih dari 5,8 juta hektare. Langkah tersebut patut didukung karena kekayaan alam Indonesia harus dikelola secara tertib dan hasilnya dikembalikan untuk kepentingan rakyat. Negara tidak boleh kalah menghadapi kebocoran anggaran, penguasaan sumber daya secara ilegal, dan praktik yang merugikan masyarakat. Di sektor perumahan, pemerintah terus mendorong pembangunan rumah subsidi, rumah susun, penataan kawasan kumuh, program bedah rumah, serta pembiayaan yang lebih mudah dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah.

Menurut saya, seluruh program tersebut menunjukkan bahwa kontribusi Presiden Prabowo diarahkan pada upaya membangun Indonesia yang lebih mandiri, kuat, dan berkeadilan. Namun, keberhasilan pembangunan tidak dapat hanya bergantung kepada presiden. Menteri, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat harus bergerak bersama. Apresiasi terhadap pemerintah juga harus disertai pengawasan. Program yang baik harus dijalankan dengan transparan, tepat sasaran, serta bebas dari korupsi dan penyalahgunaan kewenangan. Presiden Prabowo masih memiliki perjalanan panjang dalam memimpin Indonesia. Berbagai persoalan seperti kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, pendidikan, kesehatan, harga kebutuhan pokok, dan pemerataan pembangunan tetap membutuhkan kerja keras. Namun, keberanian membangun ketahanan pangan, memperbaiki gizi anak, memperkuat koperasi, mengejar kemandirian energi, menyelamatkan kekayaan negara, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia merupakan kontribusi penting yang layak diapresiasi. Semoga seluruh kebijakan tersebut terus dijalankan secara konsisten dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat dari kota hingga pelosok Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *