Spread the loveOleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H. Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia Menjadi Ketua Umum sebuah partai politik bukan hanya tentang bagaimana membuat partai dikenal masyarakat. Tantangan yang jauh lebih besar adalah bagaimana membangun organisasi yang kuat, memiliki kader sampai ke bawah, dipercaya masyarakat, dan mampu mengubah popularitas menjadi dukungan nyata pada saat pemilu. Menurut saya, inilah salah satu tantangan terbesar Kaesang Pangarep dalam membawa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menuju Senayan pada Pemilu 2029. PSI memiliki keuntungan sebagai partai yang cukup dikenal masyarakat, terutama melalui pemberitaan, media sosial, anak muda, dan berbagai figur nasional yang dekat dengan partai. Tetapi politik elektoral mempunyai kenyataan yang berbeda. Partai tidak cukup hanya besar di media. Partai harus mempunyai kekuatan nyata sampai tingkat kecamatan, kelurahan, desa, bahkan lingkungan masyarakat paling bawah. Pemilu pada akhirnya ditentukan oleh suara rakyat. Popularitas memang penting karena membuat sebuah partai lebih mudah dikenal. Namun dikenal belum tentu dipilih. Banyak orang dapat mengetahui nama sebuah partai, melihat aktivitasnya di media sosial, bahkan mengenal tokoh-tokohnya, tetapi ketika berada di tempat pemungutan suara, keputusan pemilih sangat dipengaruhi oleh kepercayaan dan hubungan yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, menurut saya, Kaesang mempunyai pekerjaan besar untuk memastikan PSI tidak hanya menjadi partai yang ramai diperbincangkan, tetapi menjadi partai yang benar-benar hadir di tengah masyarakat. Struktur partai harus bekerja. Kader harus turun. Pengurus di daerah harus mempunyai kegiatan yang nyata. Masyarakat harus mengetahui siapa kader PSI di lingkungannya dan apa yang sudah mereka lakukan. Kekuatan partai sesungguhnya berada pada akar rumput. Ketua umum memang penting. Tokoh nasional juga penting. Tetapi satu orang tidak mungkin menjangkau seluruh Indonesia. Di sinilah organisasi bekerja. DPP harus kuat, DPW harus bergerak, DPD harus aktif, DPC harus hidup, dan struktur di tingkat paling bawah harus benar-benar hadir bersama masyarakat. Saya melihat membangun struktur bukan sekadar membentuk kepengurusan di atas kertas. Sebuah struktur baru mempunyai arti apabila pengurusnya bekerja. Jangan sampai nama pengurus lengkap, tetapi kegiatan di masyarakat tidak ada. Jangan sampai kantor partai berdiri, tetapi masyarakat tidak mengetahui apa manfaat keberadaan partai tersebut. Kader politik harus mampu menjadi jembatan antara persoalan masyarakat dengan kebijakan pemerintah. Kalau ada masyarakat kesulitan mengakses pelayanan publik, kader harus membantu memberikan informasi. Kalau pelaku UMKM membutuhkan pendampingan, kader dapat membantu menghubungkan dengan program pemerintah. Kalau ada masalah lingkungan, administrasi, pendidikan, kesehatan, maupun persoalan sosial lainnya, kader harus mau mendengarkan dan memperjuangkannya melalui jalur yang tersedia. Menurut saya, politik seperti inilah yang akan membangun kepercayaan. Masyarakat tidak selalu membutuhkan janji yang besar. Kadang-kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengar, menjelaskan, membantu, dan tidak menghilang setelah pemilu selesai. Kaesang juga mempunyai tantangan untuk membangun kaderisasi. Partai yang ingin bertahan lama tidak boleh bergantung hanya kepada satu atau dua tokoh. PSI membutuhkan banyak kader yang mempunyai kemampuan, integritas, keberanian, pengetahuan, dan kedekatan dengan masyarakat. Anak-anak muda harus diberikan kesempatan berkembang, tetapi mereka juga harus belajar bahwa politik bukan hanya mengenai tampil di media sosial. Politik membutuhkan kesabaran. Politik membutuhkan kemampuan mendengarkan. Politik membutuhkan kerja organisasi. Politik membutuhkan keberanian menghadapi kritik. Dan yang paling penting, politik membutuhkan kepercayaan masyarakat. Anak muda memang menjadi salah satu kekuatan PSI. Ini merupakan modal yang besar karena Indonesia mempunyai jumlah pemilih muda yang sangat besar. Namun pendekatan kepada generasi muda juga jangan berhenti pada gaya komunikasi yang menarik. Anak muda sekarang semakin kritis. Mereka ingin mengetahui apa gagasan partai mengenai pekerjaan, pendidikan, biaya hidup, kewirausahaan, teknologi, lingkungan, korupsi, pelayanan publik, dan masa depan Indonesia. Karena itu, partai harus mampu menawarkan gagasan sekaligus kerja nyata. Media sosial dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan gagasan, tetapi aktivitas di lapanganlah yang akan memperkuat kepercayaan. Saya juga melihat PSI mempunyai peluang untuk membangun kekuatan melalui UMKM dan ekonomi masyarakat. Jutaan masyarakat Indonesia menggantungkan kehidupannya pada usaha kecil. Mereka menghadapi persoalan modal, legalitas, pemasaran, perpajakan, digitalisasi, sampai persaingan usaha. Kalau kader-kader partai mampu hadir membantu memperjuangkan kebutuhan mereka, hubungan politik dengan masyarakat akan terbentuk secara lebih alami. Partai politik jangan hanya datang membawa atribut. Datanglah membawa solusi. Begitu pula dengan anak muda yang mencari pekerjaan, masyarakat yang menghadapi kesulitan pelayanan pemerintahan, warga yang membutuhkan infrastruktur, maupun kelompok masyarakat lainnya. Politik harus mampu menyentuh persoalan yang benar-benar dirasakan rakyat. Menuju Pemilu 2029, waktu yang tersedia harus digunakan untuk memperkuat organisasi. Menurut saya, jangan menunggu masa kampanye baru turun kepada masyarakat. Kalau ingin memperoleh kepercayaan pada 2029, pekerjaan harus dilakukan jauh sebelumnya. Kader harus hadir secara konsisten agar masyarakat dapat menilai sendiri siapa yang benar-benar bekerja. Tentu membawa PSI ke Senayan bukan pekerjaan mudah. Persaingan partai politik di Indonesia sangat ketat. Partai-partai besar memiliki pengalaman panjang, struktur kuat, jaringan luas, tokoh daerah, anggota legislatif, serta basis pemilih yang sudah terbentuk bertahun-tahun. Karena itu, PSI tidak boleh merasa cukup hanya karena mempunyai popularitas atau figur yang dikenal luas. Justru kondisi tersebut harus menjadi motivasi untuk bekerja lebih keras. Kaesang sebagai ketua umum mempunyai tanggung jawab besar untuk menggerakkan mesin partai. Tetapi menurut saya, keberhasilan PSI tidak boleh dibebankan hanya kepada ketua umum. Seluruh kader dari pusat sampai tingkat paling bawah harus mempunyai rasa tanggung jawab yang sama. Kader di daerah jangan hanya menunggu instruksi dari pusat. Mereka harus memahami karakter masyarakat di wilayah masing-masing. Persoalan masyarakat Kota Depok tentu dapat berbeda dengan masyarakat di Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, maupun daerah lainnya. Karena itu, strategi politik juga harus mampu menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Di sinilah pentingnya politik yang mau mendengar. Jangan merasa sudah mengetahui kebutuhan masyarakat sebelum bertanya kepada mereka. Datangi masyarakat. Duduk bersama mereka. Dengarkan keluhannya. Setelah itu, pikirkan apa yang dapat diperjuangkan. Pada akhirnya, menurut saya, tantangan terbesar Kaesang bukan hanya bagaimana membuat PSI semakin terkenal. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mengubah popularitas menjadi kepercayaan, kepercayaan menjadi dukungan, dan dukungan menjadi kekuatan politik yang digunakan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Kalau PSI ingin masuk Senayan pada 2029, maka jalan menuju Senayan bukan hanya melalui televisi, media sosial, baliho, ataupun panggung politik. Jalan menuju Senayan harus dibangun dari kampung, kelurahan, desa, kecamatan, pasar, komunitas, tempat usaha, dan rumah-rumah masyarakat. Partai boleh besar di media, tetapi harus lebih besar lagi dalam kerja nyata. Struktur boleh kuat di atas kertas, tetapi harus hidup di tengah rakyat. Dan kader boleh mempunyai ambisi politik, tetapi ambisi tersebut harus selalu diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Menurut saya, kalau PSI mampu membangun akar rumput yang kuat, melahirkan kader yang bekerja, serta hadir secara konsisten menyelesaikan persoalan masyarakat, maka peluang menuju Senayan akan semakin terbuka. Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah partai bukan ditentukan oleh seberapa sering namanya muncul di media, tetapi seberapa dalam kepercayaan yang berhasil dibangun di hati rakyat. Navigasi pos Maestro Nasirun Berpulang, Binton Nadapdap: Karyanya Akan Tetap Hidup dalam Sejarah Seni Indonesia SEPULUH TAHUN JOKOWI MEMIMPIN INDONESIA: YANG PALING PENTING BUKAN HANYA WARISAN FISIK, TETAPI KEBERLANJUTAN PEMBANGUNAN