Spread the loveOleh: Binton Jhonson Nadapdap.,S.Sos.,S.H.,M.M.,M.H. Penulis, pemerhati seni, dan kolektor lukisan Dunia seni rupa Indonesia kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Maestro seni lukis kontemporer Indonesia, Nasirun, meninggal dunia pada Sabtu, 1 Agustus 2026, sekitar pukul 05.58 WIB di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Nasirun berpulang pada usia 60 tahun. Saya, Binton Jhonson Nadapdap, sebagai penulis, pemerhati seni, dan kolektor lukisan yang memiliki serta merawat beberapa karya Nasirun, menyampaikan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas kepergian sang maestro. Kepergian Nasirun bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga dan komunitas seniman di Yogyakarta, tetapi juga kehilangan besar bagi kebudayaan Indonesia. Nasirun telah meninggalkan jejak melalui warna, garis, simbol, spiritualitas, serta keberaniannya mengolah kekayaan tradisi menjadi karya seni kontemporer yang dikenal luas. Perjalanan Hidup Sang Maestro Nasirun lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1965. Pada 1983, ia hijrah ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan seni. Ia terlebih dahulu mempelajari Seni Kriya Batik di Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta. Setelah itu, Nasirun melanjutkan pendidikan pada Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang sebelumnya dikenal sebagai Akademi Seni Rupa Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikannya pada 1994. Perjalanan Nasirun menuju puncak dunia seni tidak berlangsung secara instan. Ia melewati masa-masa sulit dengan ketekunan, keberanian, dan konsistensi dalam berkarya. Pameran tunggal pertamanya berlangsung pada 1993 di Mirota Kampus, Yogyakarta. Namanya kemudian semakin dikenal luas sejak periode Reformasi, ketika karya-karyanya mulai memperoleh perhatian besar dari masyarakat, kolektor, galeri, dan komunitas seni. Nasirun dikenal sebagai seniman yang menggali kekayaan budaya Jawa, cerita wayang, legenda, mitologi, dongeng mistis, kaligrafi, serta nilai-nilai spiritualitas Islam. Berbagai unsur tersebut dipadukan dengan realitas kehidupan sehari-hari sehingga melahirkan karya-karya yang ekspresif, penuh warna, ornamental, simbolis, dan terkadang menghadirkan humor serta kritik sosial. Ia juga tidak hanya melukis di atas kanvas. Nasirun menggunakan beragam benda sebagai media berkarya, mulai dari kayu, meja, kursi, surat undangan, kemasan, kaleng, mobil, hingga atap galeri. Eksplorasi tersebut menunjukkan bahwa bagi Nasirun, ruang berkarya tidak pernah dibatasi oleh bentuk ataupun medium. Karya dan Pameran Penting Sejumlah karya Nasirun yang tercatat dalam berbagai galeri dan dokumentasi seni antara lain Abstraction of Nature’s Aura, Ibu Pertiwi, Rajah, Sultan Seni Rupa, Jailangkung, Arjuna Memanah, Sudut Maha Karya, Meditation, LOVE/CINTA, My Ship, My Ocean, dan Darwis. Karya-karya lainnya meliputi Ibu Jangan Menangis, Ibu Pertiwi Tetap Optimis, Imajinasi Dasamuka, serta Imaji Blawong. Sepanjang perjalanan kariernya, Nasirun juga menggelar sejumlah pameran tunggal penting, di antaranya: Ojo Ngono di Galeri Nasional Indonesia; Uwuh Seni di Galeri Salihara; The Breath of Nasirun: Metamorphosis of Tradition di Mizuma Art Gallery, Tokyo; RUN: Embracing Diversity di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; Wirid on Canvas di Yogyakarta; dan Perayaan Persahabatan di OHD Museum, Magelang. Karya-karyanya juga pernah dipamerkan dalam berbagai pameran internasional di Jepang, Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, China, Malta, Inggris, dan sejumlah negara lainnya. Kiprah tersebut menempatkan Nasirun sebagai salah satu seniman Indonesia yang memperoleh pengakuan luas di tingkat internasional. Prestasi dan Tiga Rekor MURI Sejak menempuh pendidikan seni, bakat Nasirun telah memperoleh berbagai penghargaan. Ia pernah meraih penghargaan sketsa dan lukisan terbaik di lingkungan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Nasirun juga menerima McDonald Award pada Lustrum X Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 1994 serta Philip Morris Indonesia Art Award pada 1997. Pada 2016, Nasirun mencatatkan tiga rekor Museum Rekor Dunia Indonesia atau MURI, yaitu: Melukis dengan media mobil terbanyak, yakni sebanyak 24 mobil; Membuat miniatur Candi Borobudur dari susunan 113 pagupon; dan Melukis pada media meja kayu utuh terbanyak, yakni sebanyak 13 meja. Ketiga karya tersebut dipamerkan dalam pameran bertajuk RUN: Embracing Diversity di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa Nasirun bukan sekadar menghasilkan lukisan untuk kepentingan pasar. Ia terus bereksperimen, mencari bentuk-bentuk baru, serta menyampaikan pesan mengenai keragaman, kehidupan, kebudayaan, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Informasi Mengenai Penyebab Meninggalnya Berdasarkan keterangan rekan seniman dan tetangganya yang diberitakan sejumlah media, Nasirun mengalami sesak napas selama beberapa hari sebelum akhirnya dibawa ke Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu dini hari. Ia kemudian dilaporkan mengalami henti jantung setelah sempat memperoleh perawatan. Disebutkan pula bahwa almarhum memiliki riwayat pneumonia dan gangguan asam lambung. Namun, informasi tersebut merupakan keterangan yang diberitakan media dan bukan hasil pemeriksaan medis resmi yang diumumkan secara terperinci kepada publik. Kepergian Nasirun terasa sangat mendadak. Sehari sebelum berpulang, ia dikabarkan masih beraktivitas, berbincang dengan tetangga, membersihkan halaman rumah, dan mempersiapkan agenda pameran. Sebelum meninggal dunia, Nasirun juga tengah merencanakan sebuah pameran besar di OHD Museum, Magelang, yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober hingga November 2026. Jenazah Nasirun dimakamkan di Makam Seniman dan Budayawan Girisapto, Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat tersebut menjadi lokasi peristirahatan terakhir sejumlah tokoh seni dan kebudayaan Indonesia. Karya Seni Adalah Warisan Peradaban Sebagai seorang kolektor yang memiliki salah satu karya Nasirun, saya memandang lukisan bukan semata-mata sebagai barang berharga ataupun objek investasi. Di dalam setiap lukisan terdapat pemikiran, perjalanan hidup, suasana batin, doa, identitas kebudayaan, serta pesan sang pelukis kepada generasi berikutnya. Memiliki karya Nasirun kini terasa semakin bermakna. Namun, hal tersebut juga menghadirkan tanggung jawab moral untuk merawat, mendokumentasikan, menjaga keaslian, serta memperkenalkan karya tersebut kepada masyarakat. Karya-karya Nasirun tidak boleh hanya tersimpan di dalam ruangan tertutup. Karyanya perlu dilihat, dipelajari, dan dipahami sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah seni rupa Indonesia. Nasirun telah pergi, tetapi warna-warna yang ditorehkannya tidak akan pudar. Tubuh sang maestro telah beristirahat, tetapi karya, pemikiran, ketekunan, keramahan, dan semangat berkaryanya akan terus hidup. Selamat jalan, Maestro Nasirun. Terima kasih telah memperkaya wajah kebudayaan Indonesia. Semoga seluruh amal baik almarhum diterima oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Karya-karyamu akan tetap berbicara, bahkan ketika pelukisnya telah tiada. Navigasi pos Gangguan Ibadah Jangan Dianggap Sepele, Forum GBI Baros Dorong Gereja Siap Secara Hukum TANTANGAN KAESANG MEMBAWA PSI KE SENAYAN: PARTAI TIDAK CUKUP BESAR DI MEDIA, HARUS KUAT SAMPAI AKAR RUMPUT