Spread the love
Apresiasi atas Perjuangan Murid, Pengabdian Guru, Pengorbanan Masyarakat, dan Kehadiran Bro Ron di Sumba Timur

Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Periode 2024–2029, Anggota Komisi A DPRD Kota Depok, Ketua DPD PSI Kota Depok, dan Mahasiswa Program Doktor Hukum Konsentrasi Hukum Bisnis Universitas Kristen Indonesia.

Di tengah keindahan alam Pulau Sumba, tersimpan kisah perjuangan anak-anak yang menempuh perjalanan tidak mudah demi memperoleh pendidikan. Mereka berjalan dengan langkah-langkah kecil, tetapi membawa cita-cita yang sangat besar. Kisah tersebut terlihat dalam rangkaian kunjungan Ronald Aristone Sinaga atau yang dikenal sebagai Bro Ron ke SD Negeri Kaju, Kecamatan Mahu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Ketika sebagian anak di perkotaan dapat berangkat ke sekolah dengan kendaraan dan fasilitas yang lebih memadai, sebagian anak di Kaju, menurut keterangan guru dalam video, harus berjalan kaki berkilo-kilometer, melewati bukit, jurang, dan sungai. Ada yang belum mempunyai sepatu yang memadai, tetapi keadaan tersebut tidak memadamkan semangat mereka untuk belajar. Setiap langkah mereka seolah menyampaikan pesan kepada kita semua: jarak boleh jauh, jalan boleh sulit, tetapi cita-cita tidak boleh berhenti.

SD Negeri Kaju, Sekolah Kecil dengan Harapan Besar

Berdasarkan pencocokan video dengan data resmi Kemendikdasmen, sekolah yang dikunjungi adalah: SD Negeri Kaju, NPSN: 70029944, Kecamatan Mahu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Dalam unggahan Bro Ron, sekolah tersebut disebut berada di Desa Persiapan Kaju. Sementara itu, data resmi Kemendikdasmen masih mencatat alamat sekolah di Kaju, Desa/Kelurahan Lulundilu, Kecamatan Mahu. Untuk kepentingan publikasi, lokasi tersebut dapat ditulis sebagai: SD Negeri Kaju, NPSN 70029944, Desa Persiapan Kaju/Lulundilu, Kecamatan Mahu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. SD Negeri Kaju merupakan sekolah negeri di bawah naungan pemerintah daerah dan tercatat memiliki izin operasional sejak 1 Maret 2022. Sekolah ini menjadi tempat anak-anak Kaju menanamkan harapan bahwa pendidikan dapat membawa kehidupan mereka menuju masa depan yang lebih baik. (“Data resmi Kemendikdasmen” (https://referensi.data.kemendikdasmen.go.id/pendidikan/npsn/70029944))

Perjuangan Murid yang Menggugah Nurani

Dalam video, guru menyampaikan bahwa sebagian anak berjalan kaki sampai sekitar lima kilometer menuju sekolah. Mereka disebut harus melewati bukit, jurang, dan sungai. Keterangan jarak tersebut merupakan penuturan dalam video dan masih dapat diverifikasi lebih lanjut melalui pemetaan lapangan. (“Unggahan kunjungan Bro Ron” (https://www.instagram.com/reel/DbzmrbIPm_B/)) Terlepas dari angka jaraknya, perjuangan anak-anak itu nyata. Mereka bangun dengan tekad untuk belajar, berjalan dengan keterbatasan, lalu duduk di ruang kelas dengan harapan yang sama seperti anak-anak lainnya di Indonesia. Mereka mengajarkan kepada kita tentang ketekunan. Mereka mungkin belum memiliki semua fasilitas yang dibutuhkan, tetapi mereka mempunyai sesuatu yang sangat berharga: kemauan untuk belajar. Semangat tersebut patut menjadi motivasi bagi anak-anak Indonesia yang telah memperoleh fasilitas lebih baik. Jangan mudah mengeluh ketika harus bangun pagi, mengerjakan tugas, membaca buku, atau mengikuti pelajaran. Di tempat lain, ada anak-anak yang harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk dapat duduk di dalam kelas.

Guru-Guru yang Mengabdi dalam Keterbatasan

Di balik semangat para murid, terdapat guru-guru yang terus mengajar dan mendampingi mereka. Pengabdian guru di wilayah pedalaman sering kali berlangsung jauh dari sorotan publik. Mereka tidak hanya menyampaikan pelajaran. Mereka juga menjadi penyemangat, pelindung, pendamping, dan penghubung antara cita-cita anak dengan masa depan. Guru di pedalaman menghadapi tantangan geografis, sarana pendidikan, komunikasi, dan transportasi. Namun, mereka tetap datang dan mengajar. Kehadiran mereka membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu harus berlangsung di tempat yang nyaman. Kepada para guru SD Negeri Kaju dan seluruh guru di wilayah pedalaman Indonesia, kita patut menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya. Jasa mereka mungkin tidak selalu muncul dalam pemberitaan, tetapi hasil pengabdian mereka akan hidup dalam diri setiap anak yang berhasil meraih cita-cita.

Pengorbanan Orang Tua dan Masyarakat

Perjuangan anak-anak tersebut juga tidak terpisahkan dari pengorbanan orang tua dan masyarakat. Dalam keterbatasan ekonomi dan geografis, para orang tua tetap mendorong anak-anaknya untuk bersekolah. Mungkin mereka belum mampu memberikan perlengkapan pendidikan yang lengkap. Namun, mereka memberikan sesuatu yang tidak kalah penting: doa, semangat, restu, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah kehidupan keluarga. Masyarakat setempat juga ikut menjaga kehidupan sekolah. Sekolah di pedalaman tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi menjadi pusat harapan sebuah desa. Ketika seorang anak dapat membaca, menulis, berhitung, dan melanjutkan pendidikan, seluruh masyarakat ikut merasakan kebanggaannya. Karena itu, pengorbanan masyarakat Kaju perlu kita hormati. Mereka bukan masyarakat yang menyerah kepada keadaan. Mereka terus berusaha menjaga agar anak-anak tetap bersekolah sekalipun jalan yang ditempuh tidak mudah.

Kehadiran Bro Ron Membawa Perhatian dan Harapan

Nama lengkap Bro Ron adalah Ronald Aristone Sinaga. Berdasarkan susunan resmi kepengurusan Partai Solidaritas Indonesia, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP PSI periode 2025–2030. (“DPP PSI” (https://psi.id/lantik-pengurus-dpp-psi-periode-2025-2030-kaesang-akan-evaluasi-tiap-tiga-bulan/)) Kehadiran Bro Ron di SD Negeri Kaju patut mendapatkan apresiasi. Ia bersedia menempuh perjalanan menuju wilayah yang jauh, bertemu langsung dengan guru dan anak-anak, mendengarkan pengalaman mereka, serta membawa kisah tersebut kepada masyarakat luas. Kunjungan seperti ini mempunyai arti penting. Kadang-kadang sebuah persoalan telah lama dirasakan masyarakat, tetapi belum banyak diketahui orang lain. Ketika seseorang datang, mendengar, dan menyampaikan keadaan tersebut kepada publik, semakin banyak pihak yang dapat tergerak untuk membantu. Dalam rangkaian kunjungannya terlihat perhatian terhadap kebutuhan anak-anak, seperti tas, buku, alat tulis, dan alas kaki. Bantuan mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi seorang anak, tas dan sepatu baru dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat untuk bersekolah. Apresiasi yang datang dari masyarakat dan warganet menunjukkan bahwa kepedulian masih hidup di tengah bangsa kita. Banyak orang ingin membantu ketika mereka mengetahui keadaan yang sebenarnya. Terima kasih kepada Bro Ron yang telah datang bukan hanya untuk melihat, tetapi juga untuk mendengar dan ikut merasakan. Kehadirannya telah membantu memperkenalkan perjuangan anak-anak Kaju kepada masyarakat Indonesia. Semoga kepedulian tersebut terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak tokoh, organisasi, dunia usaha, komunitas, serta masyarakat untuk hadir bagi pendidikan di wilayah pedalaman.

Bukan Mencari Siapa yang Salah, tetapi Mengajak Semua Pihak Bergerak

Persoalan pendidikan di wilayah pedalaman tidak dapat diselesaikan oleh satu orang atau satu lembaga. Kondisi geografis, persebaran penduduk, keterbatasan transportasi, kebutuhan guru, dan penyediaan fasilitas pendidikan merupakan tantangan yang memerlukan kerja sama banyak pihak. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pemerintah daerah atau kepala daerah. Justru kita berharap pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, DPRD, sekolah, masyarakat, dunia usaha, organisasi sosial, dan para pemerhati pendidikan dapat saling mendukung. Pemerintah daerah tentu mempunyai berbagai wilayah dan kebutuhan masyarakat yang harus ditangani. Karena itu, informasi yang dibawa Bro Ron dapat menjadi tambahan masukan yang bermanfaat dalam menentukan prioritas pembangunan pendidikan. Kepedulian masyarakat tidak perlu dipertentangkan dengan peran pemerintah. Keduanya dapat berjalan bersama. Pemerintah hadir melalui kebijakan dan program, sedangkan masyarakat memperkuatnya melalui gotong royong, perhatian, dan pengawasan yang membangun. Tujuan kita bukan mencari siapa yang harus disalahkan. Tujuan kita adalah memastikan anak-anak tetap belajar dan memperoleh masa depan yang lebih baik.

Apresiasi untuk Pemerintahan Prabowo–Gibran dan Sekolah Rakyat

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka patut diapresiasi karena memberikan perhatian besar terhadap pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia. Salah satu terobosannya adalah Program Sekolah Rakyat, yang dirancang untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Pada 12 Januari 2026, Presiden Prabowo meresmikan 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi. Pemerintah menargetkan pembangunan 500 Sekolah Rakyat hingga 2029. (“Sekretariat Negara Republik Indonesia” (https://www.setneg.go.id/baca/index/resmikan_166_sekolah_rakyat_presiden_prabowo_tegaskan_komitmen_putus_rantai_kemiskinan_ekstrem)) Program ini merupakan harapan baru bagi anak-anak yang mengalami keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan. Semoga semangat Sekolah Rakyat juga memperkuat perhatian pemerintah terhadap sekolah-sekolah yang telah berdiri di wilayah pedalaman. Sekolah Rakyat dan penguatan sekolah negeri dapat berjalan saling melengkapi. Yang terpenting adalah memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal hanya karena keadaan ekonomi keluarga atau tempat tinggalnya jauh dari pusat pemerintahan.

Pendidikan adalah Investasi Masa Depan Bangsa

Sebagai orang yang pernah mengajar kursus akuntansi dan hitung dagang pada dekade 1980-an serta memiliki latar belakang Magister Manajemen SDM, saya melihat pendidikan sebagai investasi sumber daya manusia yang paling penting. Bangunan, jalan, dan teknologi memang diperlukan. Namun, pembangunan manusia melalui pendidikan akan menentukan masa depan bangsa dalam jangka panjang. Seorang anak yang hari ini belajar membaca di SD Negeri Kaju mungkin kelak menjadi guru, tenaga kesehatan, pengusaha, aparatur negara, pemimpin masyarakat, atau tokoh yang membangun kampung halamannya. Kita tidak pernah mengetahui dari sekolah sederhana mana pemimpin besar bangsa akan lahir. Karena itu, setiap anak harus diberi kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi. Pemerintah telah memiliki data mengenai desa, jumlah penduduk, sekolah, dan anak usia belajar. Data tersebut dapat terus digunakan untuk menjangkau sekolah yang menghadapi kendala geografis, keterbatasan fasilitas, kekurangan guru, serta kesulitan transportasi. Dengan kerja sama pemerintah pusat dan daerah, perhatian terhadap sekolah pedalaman dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan berkelanjutan.

Enam Harapan untuk Pendidikan di Wilayah Pedalaman

1. Pemetaan akses perjalanan siswa

Pemerintah dan sekolah dapat memetakan tempat tinggal murid, jarak perjalanan, kondisi jalan, sungai, dan wilayah yang dianggap berisiko. Pemetaan ini akan membantu menentukan solusi yang paling tepat.

2. Penguatan fasilitas sekolah secara bertahap

Ruang belajar, sanitasi, air bersih, listrik, perpustakaan, dan akses internet dapat terus diperkuat sesuai kebutuhan dan kemampuan pemerintah.

3. Dukungan transportasi dan perlengkapan siswa

Sepeda, angkutan sekolah, sepatu, jas hujan, tas, seragam, dan perlengkapan belajar dapat sangat membantu anak-anak yang harus menempuh perjalanan jauh.

4. Penguatan dan penghargaan bagi guru pedalaman

Guru yang mengabdi di wilayah sulit memerlukan dukungan tempat tinggal, transportasi, pelatihan, sarana komunikasi, dan penghargaan yang layak.

5. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha

Program tanggung jawab sosial perusahaan, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, komunitas, dan para dermawan dapat diarahkan sesuai kebutuhan nyata sekolah.

6. Pemantauan bantuan secara terbuka dan berkelanjutan

Setiap bantuan sebaiknya dicatat agar tidak tumpang tindih dan dapat dipastikan sampai kepada murid yang membutuhkan. Transparansi akan menjaga kepercayaan semua pihak.

Penutup: Dari Kaju, Kita Belajar tentang Ketulusan

Anak-anak Kaju mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang gedung dan buku. Pendidikan adalah keberanian untuk terus melangkah sekalipun perjalanan tidak mudah. Guru-guru Kaju mengajarkan arti pengabdian. Orang tua dan masyarakat mengajarkan pengorbanan. Para pemberi bantuan mengajarkan gotong royong. Sementara itu, kehadiran Bro Ron mengajarkan pentingnya datang, mendengar, dan peduli. Terima kasih kepada Bro Ron yang telah membantu membawa suara anak-anak Kaju kepada masyarakat luas. Semoga Tuhan memberikan kesehatan, rezeki, kekuatan, kebijaksanaan, dan perlindungan dalam setiap langkah pengabdiannya. Terima kasih kepada masyarakat, para guru, orang tua, warganet, relawan, dan seluruh pihak yang telah memberikan perhatian. Kebaikan sekecil apa pun dapat menjadi cahaya besar bagi seorang anak. Semoga pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat kerja sama untuk menjangkau pendidikan sampai ke wilayah pedalaman. Pendidikan adalah masa depan bangsa, dan masa depan itu harus menjadi milik seluruh anak Indonesia—tanpa terkecuali.

Catatan Sumber dan Pertanggungjawaban Penulis

Tulisan ini disusun berdasarkan sumber terbuka dan dimaksudkan sebagai tulisan humanis serta apresiatif. Keterangan mengenai jarak perjalanan dan medan yang dilalui murid bersumber dari penuturan dalam video dan masih dapat diverifikasi lebih lanjut melalui pemeriksaan lapangan. Penulis adalah Ketua DPD PSI Kota Depok, sedangkan Ronald Aristone Sinaga merupakan Wakil Ketua Umum DPP PSI. Hubungan kepartaian tersebut disampaikan secara terbuka agar pembaca dapat menilai tulisan secara objektif. Tulisan ini merupakan pandangan dan tanggung jawab pribadi penulis, bukan pernyataan resmi DPRD Kota Depok, Komisi A DPRD Kota Depok, Pemerintah Kota Depok, ataupun DPP PSI.

Sumber Informasi

  1. Ronald Aristone Sinaga, “reel yang menjadi dasar tulisan” (https://www.instagram.com/reel/DcN4K3Tv7gn/), Instagram, diakses 24–25 Agustus 2026.
  2. Ronald Aristone Sinaga, “unggahan mengenai perjuangan murid SD Negeri Kaju” (https://www.instagram.com/reel/DbzmrbIPm_B/), Instagram, diakses 24–25 Agustus 2026.
  3. Kemendikdasmen RI, “Profil SD Negeri Kaju—NPSN 70029944” (https://referensi.data.kemendikdasmen.go.id/pendidikan/npsn/70029944), diakses 24–25 Agustus 2026.
  4. Partai Solidaritas Indonesia, “Susunan Pengurus DPP PSI Periode 2025–2030” (https://psi.id/lantik-pengurus-dpp-psi-periode-2025-2030-kaesang-akan-evaluasi-tiap-tiga-bulan/), diakses 24–25 Agustus 2026.
  5. JDIH DPR RI, “UUD 1945, khususnya Pasal 31 tentang hak memperoleh pendidikan” (https://jdih.dpr.go.id/setjen/index/id/UUD-1945-BAGIAN-PERTIMBANGAN-DAN-DOKUMENTASI-INFORMASI-HUKUM), diakses 24–25 Agustus 2026.
  6. BPK RI, “Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional” (https://peraturan.bpk.go.id/Details/43920/uu-no-20-tahun-2003), diakses 24–25 Agustus 2026.
  7. Sekretariat Negara RI, “Peresmian 166 Sekolah Rakyat dan target 500 sekolah hingga 2029” (https://www.setneg.go.id/baca/index/resmikan_166_sekolah_rakyat_presiden_prabowo_tegaskan_komitmen_putus_rantai_kemiskinan_ekstrem), 12 Januari 2026, diakses 25 Agustus 2026.

Profil Penulis

St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H. adalah Anggota DPRD Kota Depok periode 2024–2029 dan bertugas di Komisi A DPRD Kota Depok. Ia juga menjabat sebagai Ketua DPD PSI Kota Depok dan sedang menempuh Program Doktor Hukum dengan konsentrasi Hukum Bisnis di Universitas Kristen Indonesia. Penulis pernah mengajar kursus akuntansi dan hitung dagang pada dekade 1980-an, memiliki latar belakang pendidikan Magister Manajemen SDM, serta purna tugas setelah mengabdi selama 31 tahun di Bank Rakyat Indonesia. Pengalaman tersebut membentuk perhatiannya terhadap pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, pelayanan publik, dan pemberdayaan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *