Dari Kampus ke Meja Kopi: Pertemuan Profesor UKI dan Anggota DPRD Depok Melahirkan Inspirasi Intelektual
Jakarta – Perubahan besar tidak selalu lahir dari ruang sidang, forum resmi, atau panggung politik yang megah. Terkadang, inspirasi yang mampu menggerakkan masa depan justru muncul dari pertemuan sederhana, di meja makan, di sela percakapan santai, ditemani secangkir kopi dan diskusi penuh makna.
Momen itulah yang terjadi ketika Prof. Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., M.B.A., mantan Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) sekaligus akademisi dan praktisi hukum terkemuka, bertemu dengan salah satu mahasiswanya di Program Doktor Ilmu Hukum UKI, St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., M.M., M.H.

Pertemuan yang awalnya tampak sederhana sekadar makan siang, minum kopi, dan berbincang ringan,perlahan berkembang menjadi dialog intelektual yang hangat. Percakapan keduanya mengalir dari pengalaman hidup, perjalanan akademik, hingga refleksi mendalam tentang masa depan hukum, politik, kepemimpinan, dan pembangunan bangsa Indonesia.
Suasana santai itu justru membuka ruang diskusi yang lebih jujur dan mendalam. Tidak ada podium, tidak ada formalitas. Hanya dua generasi pemikir yang bertukar gagasan tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjadi fondasi bagi perubahan sosial dan pembangunan bangsa. Namun ada satu momen yang menjadi simbol kuat dari pertemuan tersebut: pertukaran buku.
Prof. Dhaniswara menyerahkan buku berjudul “Profesor Multi Profesi”, sebuah karya yang mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai akademisi, praktisi hukum, hingga pelaku dunia bisnis. Buku tersebut menggambarkan bagaimana ilmu pengetahuan, integritas, dan pengalaman dapat menjembatani berbagai bidang kehidupan sekaligus memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Sebagai balasan, St. Binton Jhonson Nadapdap menyerahkan dua buku yang ia tulis, yaitu “Hukum dan Marketing Politik” serta “Public Speaking Para Ahli Hukum”, yang ia tulis bersama putrinya. Kolaborasi lintas generasi ini menjadi contoh menarik bagaimana gagasan dapat diwariskan sekaligus dikembangkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan dan pemikiran kritis. Pertukaran buku tersebut bukan sekadar simbol persahabatan akademik. Ia merupakan lambang pertukaran gagasan, pengalaman, dan visi tentang masa depan Indonesia.
Yang membuat pertemuan ini semakin menarik, St. Binton Nadapdap bukan hanya seorang penulis dan akademisi, tetapi juga Anggota DPRD Kota Depok serta Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok. Di tengah kesibukannya sebagai politisi dan wakil rakyat dengan berbagai agenda publik yang padat, ia tetap aktif menulis, berpikir, dan menuangkan gagasan tentang hukum, politik, dan pembangunan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa dunia politik dan dunia akademik tidak harus berjalan terpisah. Justru keduanya dapat saling memperkaya. Politik membutuhkan kedalaman pemikiran, sementara akademik membutuhkan keberanian untuk menghadirkan gagasan dalam praktik kehidupan masyarakat.
Dalam percakapan yang berlangsung hangat tersebut, Prof. Dhaniswara juga berbagi berbagai pengalaman hidup yang sarat makna. Nasihat dan pandangan yang disampaikan terasa seperti “kuliah kehidupan singkat” padat, reflektif, dan membuka cara pandang baru tentang kepemimpinan, integritas, dan tanggung jawab intelektual.
Pada satu titik, sebuah kalimat sederhana terlontar dari sang profesor kepada mahasiswanya:
“Pak Binton, kalau studi doktoralnya sudah selesai, saya tunggu bergabung di law firm saya.”
Kalimat itu mungkin terdengar singkat, tetapi memiliki makna yang dalam. Ia bukan sekadar ajakan profesional, melainkan juga bentuk pengakuan, kepercayaan, dan harapan atas perjalanan intelektual yang sedang ditempuh. Di tengah era digital ketika banyak orang berlomba menjadi viral melalui konten instan dan sensasi sesaat, pertemuan sederhana ini justru menghadirkan pesan yang lebih mendalam: perubahan besar tidak pernah lahir secara instan.Gagasan besar lahir dari proses panjang,membaca, berdiskusi, menulis, dan terus mempertanyakan masa depan. Buku menjadi ruang tempat gagasan itu disusun, dipertajam, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pertemuan antara profesor dan politisi ini pun menyisakan pesan penting bagi publik:
bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh mereka yang banyak berbicara, tetapi oleh mereka yang berpikir, menulis, dan berani membagikan ilmunya kepada masyarakat.
Dari ruang kelas menuju meja makan, dari diskusi akademik menuju percakapan santai di sela secangkir kopi, lahirlah inspirasi yang tidak bisa dibeli oleh jabatan maupun popularitas.
Karena pada akhirnya, perubahan bagi bangsa ini tidak selalu dimulai dari panggung besar atau ruang sidang megah, Sering kali, perubahan itu dimulai dari sesuatu yang sederhana, sebuah percakapan, sebuah gagasan, dan sebuah buku yang ditulis dengan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dapat mengubah masa depan.

