Warga RI Rajin Menabung, Bukan Karena Makin Kaya Tapi Makin Cemas, Binton Nadapdap: Ini Sinyal Kewaspadaan Ekonomi Masyarakat
Depok – Meningkatnya jumlah tabungan masyarakat Indonesia di perbankan ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan membaiknya kondisi ekonomi rumah tangga. Sejumlah data menunjukkan bahwa banyak masyarakat memilih menyimpan uang bukan karena pendapatan mereka meningkat, melainkan karena kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi ke depan. Menanggapi fenomena tersebut, Binton Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H., selaku Anggota DPRD Kota Depok dan Ketua DPD PSI Kota Depok, menilai bahwa tren kenaikan tabungan masyarakat harus dibaca secara hati-hati dan tidak boleh langsung dianggap sebagai indikator meningkatnya kesejahteraan. “Kalau masyarakat menabung karena penghasilannya bertambah, tentu itu kabar baik. Namun apabila masyarakat menabung karena khawatir terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya hidup yang semakin tinggi, atau ketidakpastian ekonomi, maka ini menjadi sinyal yang harus diperhatikan pemerintah,” ujar Binton Nadapdap. Menurut Binton, masyarakat saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan keluarga. Mereka memilih menyisihkan pendapatan sebagai dana cadangan karena belum sepenuhnya yakin terhadap kondisi ekonomi beberapa bulan ke depan. “Masyarakat sedang membangun bantalan keuangan untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Ini menunjukkan adanya kewaspadaan yang tinggi di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian kelompok masyarakat,” katanya.
Binton menegaskan bahwa pemerintah perlu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, memperkuat daya beli masyarakat, serta membuka lebih banyak lapangan pekerjaan agar rasa optimisme masyarakat terhadap perekonomian dapat meningkat. Data perbankan menunjukkan bahwa pertumbuhan simpanan paling tinggi justru terjadi pada kelompok nasabah dengan saldo di bawah Rp100 juta. Berdasarkan laporan The Focal Point edisi 22 Juni 2026, simpanan kelompok tersebut tumbuh 5,4 persen secara tahunan hingga April 2026. Di sisi lain, kelompok masyarakat dengan dana lebih besar justru mulai meningkatkan kepemilikan simpanan dalam bentuk valuta asing. Kondisi ini dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Binton menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama pemerintah saat ini bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membangun rasa percaya masyarakat terhadap masa depan ekonomi nasional. “Ketika masyarakat merasa aman terhadap pekerjaannya, pendapatannya stabil, dan harga-harga terkendali, maka konsumsi akan bergerak lebih kuat. Sebaliknya, jika kecemasan meningkat, masyarakat cenderung menahan belanja dan memilih menyimpan uang,” jelasnya. Karena itu, ia berharap pemerintah pusat, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat kebijakan yang mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Tujuan kita bukan hanya membuat masyarakat rajin menabung, tetapi membuat masyarakat merasa yakin bahwa masa depan ekonominya akan semakin baik,” tutup Binton.

