Kopdes Merah Putih Sulit Saingi Ritel Modern? Binton Nadapdap: Jangan Paksa Bertanding di Arena yang Sama
Depok – Kehadiran Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang digagas pemerintah mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan. Program yang bertujuan memperkuat ekonomi kerakyatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong kemandirian ekonomi di tingkat akar rumput. Namun, di tengah optimisme tersebut, muncul berbagai pandangan terkait kemampuan Kopdes Merah Putih dalam menghadapi persaingan dengan jaringan ritel modern yang telah lebih dahulu menguasai pasar. Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kota Depok Komisi A sekaligus Ketua DPD PSI Kota Depok, Binton Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H., mengingatkan agar koperasi tidak diposisikan sebagai pesaing langsung ritel modern dengan model bisnis yang sama.
Menurut Binton, koperasi memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda dengan perusahaan ritel modern. Oleh karena itu, strategi pengembangannya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat. “Kita jangan memaksa Koperasi Desa Merah Putih bertanding di arena yang sama dengan ritel modern. Jika ukurannya hanya jumlah gerai, kekuatan modal, atau jaringan distribusi, tentu akan sangat berat. Koperasi harus membangun keunggulan yang berbeda dan berakar pada kebutuhan masyarakat desa,” ujar Binton. Ia menjelaskan bahwa kekuatan utama koperasi terletak pada semangat gotong royong, kedekatan dengan anggota, serta kemampuannya memberdayakan produk dan potensi lokal yang sering kali tidak menjadi fokus perusahaan ritel besar. Menurutnya, Kopdes Merah Putih justru dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa apabila dikelola secara profesional dan memiliki orientasi yang jelas terhadap kebutuhan warga. Selain menyediakan kebutuhan pokok, koperasi juga dapat menjadi sarana pemasaran produk UMKM, hasil pertanian, peternakan, maupun usaha produktif lainnya yang berkembang di desa.
Binton menilai tantangan terbesar yang dihadapi koperasi saat ini bukan semata-mata soal modal, melainkan kualitas sumber daya manusia, tata kelola organisasi, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. “Modal memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana koperasi dikelola. Tanpa manajemen yang baik, transparansi, dan akuntabilitas, sebesar apa pun dukungan yang diberikan akan sulit menghasilkan dampak yang berkelanjutan,” tegasnya. Lebih lanjut, Binton mendorong pemerintah untuk memastikan adanya pendampingan berkelanjutan bagi pengurus koperasi, termasuk pelatihan manajemen usaha, digitalisasi layanan, pengelolaan keuangan, hingga strategi pemasaran yang efektif. Menurutnya, keberhasilan Kopdes Merah Putih tidak boleh hanya diukur dari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi juga dari kemampuan koperasi tersebut menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. “Kita ingin koperasi benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. Jangan hanya berdiri secara administratif, tetapi harus mampu meningkatkan pendapatan anggota, membuka lapangan pekerjaan, dan memperkuat ekonomi lokal,” katanya. Sebagai legislator, Binton berharap program Kopdes Merah Putih dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi kerakyatan yang selama ini menjadi salah satu pilar penting pembangunan nasional. Dengan pengelolaan yang profesional, dukungan pemerintah yang tepat, dan partisipasi aktif masyarakat, koperasi diyakini mampu menjadi instrumen pembangunan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. “Kopdes Merah Putih memiliki peluang besar untuk sukses. Kuncinya adalah fokus pada kebutuhan masyarakat, memperkuat produk lokal, dan menjalankan prinsip-prinsip koperasi secara profesional. Jika itu dilakukan, koperasi tidak perlu menjadi Indomaret atau Alfamart kedua, karena koperasi memiliki identitas dan kekuatan tersendiri yang justru menjadi nilai tambah bagi masyarakat,” tutup Binton Nadapdap.

