Spread the love

Oleh: Binton Jhonson Nadapdap.,S.Sos.,S.H.,M.M.,M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Komisi A dan Mahasiswa Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia

Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan antusiasme masyarakat ketika menyambut kehadiran Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Dalam video tersebut, warga terlihat memadati jalan dan berdesakan untuk dapat melihat Jokowi dari dekat. Sebagian masyarakat mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan momen, sementara yang lainnya melambaikan tangan dan berusaha menyapa. Kehadiran aparat kepolisian dan petugas pengamanan terlihat membantu mengatur kerumunan serta membuka jalan di tengah besarnya antusiasme masyarakat. Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara seorang pemimpin dan rakyat tidak selalu berakhir ketika masa jabatan telah selesai. Kedekatan yang dibangun selama bertahun-tahun dapat meninggalkan kesan dan kenangan tersendiri di hati masyarakat. Menurut saya, sambutan seperti yang terlihat dalam video tersebut merupakan ekspresi spontan masyarakat. Warga hadir bukan hanya untuk melihat seorang mantan presiden, tetapi juga untuk bertemu dengan sosok yang pernah memimpin Indonesia selama dua periode. Antusiasme masyarakat dalam video ini memperlihatkan bahwa rakyat mempunyai cara sendiri dalam mengenang pemimpinnya. Mereka datang, menunggu, berdesakan, melambaikan tangan, dan mengabadikan momen karena merasakan adanya kedekatan emosional.

Kerinduan yang Terlihat dari Wajah Masyarakat

Di tengah kerumunan tersebut, terlihat masyarakat dari berbagai kelompok usia. Ada orang tua, anak muda, perempuan, laki-laki, bahkan keluarga yang membawa anak-anaknya. Mereka berusaha mendapatkan posisi terbaik agar dapat melihat dari dekat, bersalaman, atau sekadar mengambil gambar. Banyaknya telepon genggam yang diarahkan kepada Jokowi memperlihatkan bahwa pertemuan tersebut dianggap sebagai momen berharga. Tidak semua pemimpin mampu mempertahankan perhatian masyarakat setelah tidak lagi menjabat. Karena itu, sambutan yang muncul secara terbuka seperti dalam video tersebut patut dilihat sebagai fenomena sosial. Masyarakat mungkin mempunyai penilaian yang berbeda terhadap berbagai kebijakan Jokowi selama memimpin. Kritik tentu tetap menjadi bagian dari demokrasi. Namun, perbedaan penilaian tersebut tidak menutup kenyataan bahwa Jokowi masih mempunyai tempat tersendiri di tengah sebagian masyarakat.

Pemimpin Dikenang melalui Pengalaman Rakyat

Seorang pemimpin tidak hanya dikenang melalui pidato, jabatan, atau catatan resmi pemerintahan. Pemimpin juga dikenang melalui pengalaman yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ada masyarakat yang mengenang pembangunan jalan, jembatan, bandara, pelabuhan, bendungan, dan fasilitas umum. Ada pula yang mengingat bantuan sosial, pelayanan kesehatan, pendidikan, sertifikat tanah, atau kunjungan langsung ke daerah mereka. Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk hubungan emosional antara masyarakat dan seorang tokoh politik. Menurut saya, penghormatan masyarakat seharusnya menjadi pengingat bagi setiap pemimpin bahwa jabatan memang mempunyai batas waktu, tetapi kesan yang ditinggalkan dapat bertahan jauh lebih lama. Rakyat mungkin tidak mengingat seluruh angka pembangunan ataupun isi pidato seorang pemimpin. Namun, rakyat akan mengingat bagaimana mereka diperlakukan, didengarkan, dan diperhatikan.

Antusiasme Harus Tetap Diiringi Ketertiban

Besarnya antusiasme masyarakat tentu patut dihargai. Namun, keselamatan dan ketertiban juga harus menjadi perhatian utama. Kerumunan yang terlalu padat dapat menimbulkan risiko, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang berada di bagian tengah kerumunan. Petugas keamanan perlu memastikan masyarakat tetap mempunyai ruang bergerak serta tidak saling mendorong. Masyarakat juga diharapkan mengikuti arahan petugas agar pertemuan dengan tokoh publik dapat berlangsung dengan aman dan tertib. Kegembiraan jangan sampai berubah menjadi kejadian yang merugikan. Sambutan yang baik adalah sambutan yang hangat, tertib, dan tetap memperhatikan keselamatan seluruh warga.

Kedekatan dengan Rakyat Harus Menjadi Teladan

Video tersebut juga memberikan pelajaran bagi para pejabat dan pemimpin yang masih aktif. Kedekatan dengan masyarakat tidak dapat dibangun hanya menjelang pemilihan umum. Hubungan dengan rakyat harus dipelihara melalui kehadiran, komunikasi, pelayanan, dan kerja nyata. Pemimpin harus bersedia turun langsung, mendengarkan keluhan, serta memahami persoalan yang dihadapi masyarakat. Jabatan tidak seharusnya menciptakan jarak yang semakin lebar antara pejabat dan rakyat. Sebaliknya, jabatan harus digunakan untuk mendekatkan pelayanan negara kepada masyarakat. Ketika seorang pemimpin mampu hadir di tengah rakyat, masyarakat akan menilai dan menyimpan pengalamannya sendiri. Penilaian tersebut tidak selalu dapat dibentuk melalui iklan, baliho, ataupun pencitraan.

Jabatan Berakhir, Hubungan dengan Rakyat Tetap Terjaga

Kehadiran Jokowi di tengah kerumunan masyarakat memperlihatkan bahwa masa jabatan boleh berakhir, tetapi silaturahmi dengan rakyat tidak harus terputus. Tokoh yang pernah memimpin negara tetap mempunyai ruang untuk memberikan pemikiran, pengalaman, dan kontribusi bagi bangsa. Namun, hal tersebut harus dilakukan dengan tetap menghormati pemerintahan yang sedang berjalan serta menjaga persatuan masyarakat. Menurut saya, Indonesia membutuhkan budaya politik yang dewasa. Kita dapat menghormati pemimpin terdahulu tanpa mengurangi dukungan kepada pemerintahan sekarang. Kita juga dapat memberikan kritik tanpa membangun kebencian dan permusuhan. Pemimpin datang dan pergi, tetapi rakyat tetap menjadi pemegang kedaulatan. Karena itu, setiap pemimpin harus meninggalkan warisan kerja yang dapat dirasakan dan kenangan baik yang hidup di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *