Spread the love Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H. Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia Video ini menyampaikan sebuah pesan yang menurut saya sangat menarik, khususnya bagi mereka yang telah memasuki masa purnabakti: yang seharusnya pensiun adalah jabatan kita, bukan ilmu, pengalaman, dan kemampuan yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun. Banyak orang bekerja selama 20, 30, bahkan 40 tahun. Selama perjalanan tersebut tentu ada begitu banyak pengalaman yang diperoleh—mulai dari menghadapi masalah, memimpin orang, melayani masyarakat atau pelanggan, mengambil keputusan, membangun jaringan, sampai belajar dari keberhasilan maupun kegagalan. Semua pengalaman itu sebenarnya merupakan aset yang sangat berharga. Menurut saya, sangat disayangkan apabila setelah memasuki masa pensiun, seluruh pengetahuan tersebut ikut berhenti. Pengalaman puluhan tahun jangan hanya menjadi cerita masa lalu. Pengalaman harus diubah menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Caranya sekarang semakin terbuka. Seseorang yang memiliki pengalaman panjang dapat membagikan ilmunya melalui pelatihan, workshop, seminar, mentoring, konsultasi, menulis buku, membuat artikel, podcast, maupun melalui media digital. Dengan demikian, pengalaman tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi dapat menjadi manfaat bagi banyak orang. Saya sendiri setelah mengabdi selama 31 tahun di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, melihat bahwa pengalaman kerja memberikan banyak pelajaran yang tidak seluruhnya dapat ditemukan di ruang kuliah. Berhadapan langsung dengan masyarakat, dunia usaha, UMKM, organisasi, persoalan keuangan, hingga dinamika kehidupan membuat seseorang memperoleh pengetahuan praktis yang sangat bernilai. Karena itu, saya percaya bahwa purnabakti bukan akhir dari produktivitas. Justru dapat menjadi awal dari fase pengabdian yang berbeda. Kita mungkin tidak lagi memegang jabatan yang sama, tetapi masih memiliki pikiran, pengalaman, jaringan, serta kesempatan untuk membantu orang lain. Bahkan apabila dikelola secara profesional, ilmu dan pengalaman juga dapat menciptakan peluang ekonomi baru. Seseorang dapat menjadi mentor, trainer, konsultan, penulis, pembicara, maupun membangun usaha berdasarkan kompetensi yang telah dikuasainya. Tetapi yang terpenting bukan sekadar mencari penghasilan. Nilai terbesar adalah ketika pengalaman kita mampu membantu orang lain berkembang dan menghindari kesalahan yang pernah kita alami. Generasi muda juga perlu belajar dari hal ini. Jangan hanya bekerja untuk mendapatkan gaji dan jabatan. Kumpulkan ilmu, bangun keahlian, perbanyak pengalaman, jaga integritas, dan dokumentasikan apa yang kita pelajari. Suatu hari nanti, semua itu dapat menjadi modal yang jauh lebih berharga daripada jabatan yang sifatnya sementara. Menurut saya, setiap orang yang telah memiliki pengalaman panjang sebenarnya mempunyai sesuatu yang dapat diwariskan. Jangan merasa usia membatasi untuk terus berkarya. Teknologi bahkan membuat kesempatan berbagi ilmu semakin luas. Jabatan mempunyai masa berakhir, tetapi ilmu tidak mengenal masa pensiun. Selama kita masih mampu berpikir, berbagi, dan memberikan manfaat, selama itu pula pengalaman kita tetap mempunyai nilai. Pensiunlah dari jabatan, tetapi jangan pernah pensiun dari belajar, berkarya, dan berbagi ilmu kepada orang lain. Navigasi pos JANGAN MENUNGGU KESEMPATAN DATANG: SIAPKAN DIRI AGAR LAYAK MENERIMA KESEMPATAN BESAR