Spread the lovePelatihan penting, tetapi pelaku UMKM juga membutuhkan pembiayaan, pendampingan, dan pasar agar usahanya dapat berkembang secara nyata. Oleh: Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.Anggota DPRD Kota Depok Komisi A dan Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia Depok – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan salah satu penggerak utama perekonomian masyarakat. UMKM hadir di berbagai bidang, mulai dari kuliner, perdagangan, kerajinan, pertanian, hingga jasa, sekaligus membuka lapangan pekerjaan di lingkungan sekitar. Menurut pandangan saya, pemberdayaan UMKM tidak boleh berhenti pada kegiatan pelatihan. Pelaku usaha memang membutuhkan pengetahuan mengenai pemasaran, pengelolaan keuangan, kemasan, perizinan, dan teknologi digital. Namun, pengetahuan tersebut sulit diterapkan apabila mereka tidak memiliki modal dan pasar. “Pelatihan harus menjadi awal dari pendampingan yang berkelanjutan. Setelah mengikuti pelatihan, pelaku UMKM harus dibantu memperoleh pembiayaan, meningkatkan kualitas produk, dan menemukan pasar,” tulis penulis. Modal Harus Mudah dan Terjangkau Keterbatasan modal masih menjadi persoalan utama bagi banyak pelaku usaha kecil. Tidak sedikit UMKM yang memiliki produk berkualitas, tetapi sulit meningkatkan produksi karena kekurangan peralatan dan bahan baku. Pemerintah, perbankan, koperasi, dan lembaga pembiayaan perlu menyediakan akses modal yang mudah, terjangkau, serta sesuai dengan kemampuan usaha masyarakat. Pemberian modal juga harus disertai pendampingan. Pelaku UMKM perlu memahami pencatatan keuangan, pemisahan uang pribadi dan usaha, pengelolaan cicilan, serta penggunaan modal untuk kegiatan produktif. Akses Pasar Harus Diperluas Selain modal, keberlanjutan UMKM sangat bergantung pada pasar. Banyak produk lokal mempunyai kualitas baik, tetapi belum dikenal karena keterbatasan promosi dan jaringan distribusi. Pemerintah daerah dapat membantu menghubungkan UMKM dengan pusat perbelanjaan, hotel, restoran, kawasan wisata, kegiatan pemerintahan, jaringan ritel, dan platform perdagangan digital. Produk UMKM juga perlu diberikan ruang lebih luas dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah selama memenuhi ketentuan dan standar kualitas. Keberhasilan program UMKM tidak cukup diukur dari banyaknya peserta pelatihan. Hasilnya harus terlihat dari peningkatan penjualan, perluasan pasar, bertambahnya tenaga kerja, dan naiknya pendapatan pelaku usaha. Pendampingan Harus Berkelanjutan Setiap pelaku UMKM menghadapi kebutuhan yang berbeda. Usaha kuliner membutuhkan sertifikasi dan standar kebersihan, pengrajin membutuhkan peralatan dan desain produk, sedangkan pedagang kecil membutuhkan pembiayaan dan tempat usaha yang layak. Karena itu, program pemberdayaan harus disesuaikan dengan kondisi nyata setiap usaha. Perguruan tinggi, komunitas bisnis, perbankan, perusahaan swasta, dan generasi muda dapat dilibatkan dalam digitalisasi, pemasaran, pencatatan keuangan, serta pengembangan produk. Penutup Kesimpulan saya, pelatihan tetap diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pelaku UMKM. Namun, pelatihan harus dilanjutkan dengan akses modal, pendampingan, kemudahan perizinan, dan kepastian pasar. “UMKM tidak membutuhkan bantuan sesaat. Mereka membutuhkan ekosistem usaha yang membuat produknya berkembang, penjualannya meningkat, dan usahanya mampu membuka lapangan pekerjaan,” tutup penulis. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.Anggota DPRD Kota Depok Komisi AMahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia Navigasi pos Membangun Indonesia Dimulai dari Penegakan Hukum yang Berkeadilan Banyak UMKM Jalan di Tempat, Ternyata Ini Penyebab Utamanya