Binton Nadapdap: Teknologi AI Bisa Menjadi Peluang Ekonomi Baru, Namun Masyarakat Harus Tetap Kritis dan Bijak

Spread the love

Depok – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi perhatian publik. Berbagai konten di media sosial kini ramai menampilkan kisah sukses individu yang mengaku mampu meningkatkan produktivitas bahkan memperoleh penghasilan besar melalui pemanfaatan berbagai tools AI. Fenomena tersebut memunculkan optimisme sekaligus pertanyaan di tengah masyarakat mengenai peluang ekonomi digital yang semakin terbuka di era teknologi saat ini. Banyak kalangan mulai memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan, pembuatan konten, pemasaran digital, hingga pengembangan usaha secara lebih efisien. Menanggapi tren tersebut, Binton Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H., selaku Anggota DPRD Kota Depok Komisi A sekaligus Ketua DPD PSI Kota Depok, menilai bahwa perkembangan teknologi AI merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya generasi muda dan pelaku UMKM. Menurut Binton, AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang mampu membantu meningkatkan produktivitas dan daya saing masyarakat. “Teknologi AI dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat transformasi digital di Indonesia. Jika digunakan dengan benar, AI dapat membantu pelaku usaha, pekerja kreatif, mahasiswa, hingga masyarakat umum untuk bekerja lebih efektif dan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar,” ujar Binton.

Namun demikian, Binton mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur oleh berbagai klaim keuntungan instan yang sering muncul dalam promosi di media sosial. Menurutnya, keberhasilan dalam memanfaatkan AI tetap membutuhkan proses belajar, keterampilan, kreativitas, dan konsistensi. “Kita harus memahami bahwa teknologi hanyalah alat. Kesuksesan tidak datang semata-mata karena menggunakan AI, tetapi karena kemampuan seseorang dalam mengelola pengetahuan, mengembangkan ide, dan memanfaatkan teknologi tersebut secara produktif,” katanya. Binton juga menekankan pentingnya peningkatan literasi digital agar masyarakat dapat membedakan informasi yang bersifat edukatif dengan konten yang hanya berorientasi pada sensasi atau janji keuntungan cepat. “Literasi digital harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu memahami manfaat, risiko, dan etika penggunaan AI. Jangan sampai teknologi yang seharusnya membantu justru dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang menyesatkan atau menciptakan ekspektasi yang tidak realistis,” tegasnya. Lebih lanjut, Binton mendorong pemerintah, dunia pendidikan, dan komunitas digital untuk memperluas pelatihan terkait pemanfaatan AI sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat nyata dari perkembangan teknologi tersebut.

Ia meyakini bahwa apabila masyarakat Indonesia mampu menguasai teknologi digital dan AI secara bijak, maka akan terbuka banyak peluang baru dalam bidang ekonomi, pendidikan, maupun pelayanan publik. “Yang perlu kita bangun adalah budaya belajar dan adaptasi terhadap perubahan. AI bukan ancaman, melainkan peluang. Namun peluang itu hanya akan menjadi kenyataan bagi mereka yang mau belajar, meningkatkan kompetensi, dan terus berinovasi,” pungkas Binton. Perkembangan AI yang semakin pesat diperkirakan akan terus mengubah berbagai sektor kehidupan. Oleh karena itu, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor utama agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pelaku dan pencipta nilai di era ekonomi digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *