Prabowo Minta Kredit UMKM Lebih Ringan, Binton: Ini Kabar Baik bagi Pelaku Usaha Kecil
Depok – Presiden Prabowo Subianto meminta perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk memberikan perhatian lebih besar kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Bahkan, Presiden menegaskan bahwa suku bunga kredit untuk UMKM seharusnya dapat berada di level yang sama atau lebih rendah dibandingkan suku bunga yang diberikan kepada korporasi besar. Pesan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam rapat bersama jajaran direksi dan komisaris bank-bank Himbara di Istana Kepresidenan. Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa Presiden menilai UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional yang perlu mendapatkan dukungan pembiayaan yang lebih kuat dan berkeadilan. Menurut Rosan, Presiden Prabowo menyoroti kondisi yang selama ini terjadi, di mana pelaku UMKM kerap memperoleh akses kredit dengan bunga yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan besar. Padahal, sektor UMKM memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi daerah, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Presiden juga menegaskan bahwa perbankan milik negara tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, melainkan harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pemerataan akses pembiayaan. Namun demikian, seluruh proses penyaluran kredit tetap harus mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) agar kesehatan perbankan tetap terjaga. Menanggapi arahan Presiden tersebut, Anggota DPRD Kota Depok Komisi A sekaligus Ketua DPD PSI Kota Depok, Binton Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H., menyambut baik langkah yang diambil pemerintah untuk memperkuat akses pembiayaan bagi pelaku UMKM. Menurut Binton, kebijakan suku bunga yang lebih rendah bagi UMKM merupakan bentuk keberpihakan negara kepada sektor usaha yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian nasional, terutama saat menghadapi berbagai tantangan ekonomi global. “UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Mereka menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di tingkat bawah. Karena itu, sudah sewajarnya mereka mendapatkan akses pembiayaan yang lebih murah dan lebih mudah dibandingkan saat ini,” ujar Binton.
Binton menilai selama ini banyak pelaku UMKM yang memiliki usaha produktif dan prospek yang baik, namun terkendala oleh biaya modal yang relatif tinggi. Akibatnya, kemampuan mereka untuk melakukan ekspansi usaha, meningkatkan kapasitas produksi, hingga membuka lapangan pekerjaan baru menjadi terbatas. “Ketika bunga kredit bisa ditekan lebih rendah, pelaku UMKM akan memiliki ruang yang lebih besar untuk berkembang. Mereka bisa meningkatkan produksi, memperluas pasar, dan pada akhirnya menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh masyarakat luas,” katanya. Lebih lanjut, Binton berharap arahan Presiden Prabowo dapat segera diterjemahkan menjadi kebijakan konkret oleh perbankan Himbara dan seluruh pemangku kepentingan terkait.
Menurutnya, dukungan terhadap UMKM tidak cukup hanya melalui kemudahan akses kredit, tetapi juga harus dibarengi dengan pendampingan usaha, digitalisasi, dan perluasan akses pasar. “Keberhasilan UMKM bukan hanya soal modal, tetapi juga soal pembinaan dan ekosistem yang mendukung. Pemerintah, perbankan, dan dunia usaha harus hadir bersama-sama agar UMKM Indonesia mampu naik kelas dan memiliki daya saing yang lebih kuat,” jelasnya. Binton juga optimistis bahwa apabila kebijakan pembiayaan yang lebih berpihak kepada UMKM dapat dijalankan secara konsisten, maka sektor tersebut akan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. “Kita ingin pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok usaha besar, tetapi juga dirasakan oleh jutaan pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Dengan akses pembiayaan yang lebih adil, saya yakin UMKM akan semakin kuat dan mampu menjadi fondasi ekonomi nasional yang tangguh,” tutup Binton.

